Khamis, 13 Oktober 2011

Kisah di dapur

Entah mengapa aku selalu teringat betapa enak masakan ibu dan nenekku...ya, semua orang berkata begitu,kan? Tapi bagi aku keenakannya bukan saja pada tangan yang memasak tapi juga pada alatan memasaknya. Maksud aku...kalau aku bandingkan masakan dapur kayu,walaupun dengan seribu kepayahan, namun nasi yang ditanak terasa begitu enak dimakan! Mungkin pada standard kita sekarang, dengan segala kemewahan yang kita miliki, betapa payah nenek dan mak kita berada berjam-jam di dapur bermain dengan asap dan api...tapi bak kata pepatah, Alah Bisa Tegal Biasa.....Walaupun periuk belanga tebal jelaganya, hitam legam warnanya, namun kesudahannya...masakannya yang utama...enak!
Pengalaman aku mengutip, mematahkan dan menyusun kayu-kayu getah yang kering dan mati untuk disimpan sebagai kayu api masih terngiang-ngiang dalam benakku...Subuh-subuh lagi, tatkala manusia lain sedang enak diulit mimpi nenek dan ibuku bingkas bangun menjerang air, meniup bara memarakkan api, sambil menumbuk sambal untuk dibuat nasi goreng buat bekalku dan adik beradik ke sekolah...yang pasti aku dan adik2ku tidak akan dibiarkan kelaparan ke sekolah..... sungguh besar dan mulia  pengorbanan seorang ibu..

Ketika kewangan ayahku kian meningkat, kami memiliki dapur minyak tanah cap Butterfly yang terkenal satu masa dulu..Tiada lagi asap dan abu dapur yang memenuhi ruang dapur dan aku tidak perlu lagi ke kebun di darat sana mengutip kayu api !Tapi misi aku bertukar arah, ke kedai beli minyak tanah atau minyak gas....





1 ulasan:

  1. tang dapur memasak ni pun..rumah kami dulu pernah menggunakannya..kenangan tul la..

    BalasPadam